Tuesday, June 02, 2009

Ketegaran Hati Obama Diuji Oleh Arogansi Rezim Lalu Dan Kini Ada Panggung Lawak Senator Yang Menampik Anggaran Penutupan “Gitmo” Guantanamo



Jakarta 23/5/2009 (KATAKAMI) Jujur saja, dari semua pemimpin dunia yang saat ini memerintah, posisi dan kedudukan Presiden AS ke-44 Barack Obama adalah yang paling “kurang nyaman”. Bukan karena Obama menunjukkan ketidak-mampuannya memimpin atau melakukan kesalahan. Sama sekali bukan ! Obama tetap Obama yang berpikir, bertindak & terus bekerja secara sangat cerdas.

Ia tetap menjadi dirinya, melakukan apa yang dijanjikannya semasa kampanye dulu dan terus melakukan hal-hal yang memang sangat baik untuk kepentingan negaranya. Bahkan di tataran internasional, ia — didukung Hillary Clinton dan perangkat pemerintahan Amerika lainnya, termasuk tentunya didukung Dinas Rahasia CIA dan FBI –, Obama justru mendapat dukungan yang sangat signifikan.

Pemimpin dunia yang selama puluhan tahun dendam kusumat dan darah tinggi kepada AS, mencair dan menghangat sikapnya karena gaya politik Obama yang bersahaja. Ia tak mengemis dan pantang merendahkan diri hanya untuk mendapat dukungan, apresiasi atau “senyuman” dari musuh-musuh besar AS.

Tetapi dengan caranya, Obama berani tampil dan mengubah sejumlah kebijakan yang selama ini sangat mempersulit posisi AS.

Dan mengapa dibagian atas tadi, kami sebutkan posisi Obama yang paling kurang nyaman dibandingkan para pemimpin dunia lainnya ?

Ya, sebab Obama menerima warisan setumpuk permasalahan yang sangat buruk dan memusingkan kepala dari presiden sebelumnya yaitu George Walter Bush.

Apa yang membanggakan dari pemerintahan Bush, jika dikaitkan dengan dampak hebat terhadap harkat, martabat dan kehormatan AS sebagai sebuah bangsa ? Lihatlah kebijakannya mendirikan penjara Guantanamo (GITMO) !

Apa yang bisa dijelaskan sekarang oleh Bush, mantan Wapres Dick Cheney dan anggota Kongres AS yang pada pekan ini menolak pengajuan anggaran untuk penutupan penjara Guantanamo.

Dari segi angka, anggaran yang diminta tidak terlalu besar untuk sebuah rencana yang “besar”. Anggaran yang diajukan hanya US 80 juta. Sehingga, ketika anggaran ini ditolak maka yang patut dipertanyakan kepada Bush, Cheney, dan Kongres AS yang menolak anggaran itu adalah apa maksud dan keinginan mereka sekarang ? Dan anehnya, walaupun menolak anggaran untuk penutupan penjara Guantanamo, tetapi Senat Amerika telah menyetujui 91,3 miliar dolar rancangan pengeluaran yang akan membiayai operasi militer di Afghanistan dan Irak.

Para Senator meluluskan rancangan itu hari Kamis (21/5/2009) dengan suara 86 lawan 3.

Sebagian dana itu akan digunakan untuk meningkatkan jumlah tentara di Afghanistan — satu prioritas Presiden Barack Obama. Tetapi, penolakan dana untuk Guantanamo dapat menimbulkan pertentangan dengan presiden, yang telah bertekad untuk menutup sarana itu sebelum awal tahun depan.

Seperti yang dilaporkan Radio Voice Of America (VOA), rancangan Senat itu harus direkonsiliasi dengan 95,7 milyar dolar rancangan pembiayaan perang Dewan Perwakilan Rakyat, sebelum rancangan terakhir dapat diajukan ke Gedung Putih untuk mendapat persetujuan.

Bush dan Cheney, sebaiknya “tutup mulut” dan banyak merenung pada saat ini !

Tidak pantas jika duet kepemimpinan yang sangat amat buruk citranya di mata rakyat AS dan dunia internasional ini, masih banyak bacot alias ngoceh saja mengkritik kebijakan Obama menutup penjara Guantanamo.

Besarnya hujatan dari dunia internasional akibat dampak-dampak hukum, HAM dan kemanusiaan yang timbul dibalik kemisteriusan penjara Guantanamo, adalah dosa yang tak termaafkan dari duet Bush dan Cheney.

Dan sebaiknya, Obama — atau siapa di AS — perlu sangat menyadari bahwa apapun yang terjadi di Guantanamo selama ini yang menjadi pemicu kritikan dan hujatan di bidang hukum, HAM dan kemanusiaan — semua itu bukan salah prajurit militer, petugas atau penyidik yang ada di Guantanamo.

Kesalahan dan tanggung-jawab secara total menyeluruh ada pada Bush dan Cheney !

Sentral utama dari semua kesalahan dan tanggung-jawab itu harus dituntut dari kedua orang ini. Sehingga, Obama dan rakyat AS harus bertanya kepada kedua orang ini, apa mau mereka sekarang setelah semua dampak yang ditimbulkan oleh penjara Guantanamo menjadi sangat TIDAK kondusif bagi AS.

Bush dan Cheney, termasuk juga Senator-Senator yang menolak anggaran penutupan itu , jangan menganggap bahwa mereka adalah pihak yang paling benar, paling tahu dan paling berhak menentukan kemana arah penanganan terorisme demi “NATIONAL SECURITY” atau keamanan nasional bagi AS.

Semua ada masanya, begitu dinasehatkan oleh orang yang bijak.

Ada masa untuk mengatas-namakan perang melawan teror agar bisa melakukan invasi ke sejumlah negara dan “menghajar” siapa saja yang dianggap terkait urusan terorisme.

Tetapi sekarang, ada masa untuk memulihkan dampak dari berbagai kebijakan yang salah kaprah dari pemerintahan Bush dan Cheney. Dan yang menerima warisan tak sedap dari Bush dan Cheney adalah Obama !

Sebenarnya, kalau Obama punya sedikit saja “keisengan atau ketegaan” maka biarkan saja Bush dan Cheney mempertanggung-jawabkan semua kebijakan mereka yang nyata-nyata salah serta melanggar hukum, HAM dan kemanusiaan. Tidak usah dilindungi atau ditutupi.

Mungkin, Bush dan Cheney lupa bahwa saat ini yang memegang kendali dan otoritas penuh untuk mengakses semua data dan dokumentasi kerahasiaan negara ada ditangan Presiden Obama.

Untung Bush dan Cheney hidup di AS sana. Coba kalau mereka hidup di Indonesia sini, maka keduanya tidak bakal bisa hidup tenang dan ongkang-ongkang kaki mengkritik pemerintahan baru. Mereka bisa didemo dan “dihajar” habis-habisan di semua media massa.

Sebab agak aneh dan lucu, jika ada pihak yang menjadi sumber permasalahan dan biang kerok dari munculnya kebijakan yang tidak populer bagi sebuah bangsa sebesar AS, sekarang ini masih punya kepercayaan diri dan begitu nyaring suaranya mengkritik pemerintahan baru yang sangat amat berat tugasnya membereskan semua permasalahan yang timbul akibat “kegilaan” Bush dan Cheney menangani terorisme.

Dan patut dapat diduga, ini adalah permainan politik tingkat tinggi dari lawan politik Obama yang terkalahkan dengan sangat telak pada Pemilihan Presiden bulan November 2008 lalu.

Mengapa disebut permainan politik tingkat tinggi ?

Ya, sebab keputusan menutup penjara Guantanamo adalah kebijakan pertama yang dikeluarkan Presiden Obama pasca pelantikannya bulan Januari lalu. Sehingga, kalau kebijakan maha penting ini menjadi awut-awutan dan terguncang karena tidak adanya persetujuan dalam hal anggaran maka akan mempermalukan Obama.

Tahukah mereka — jika benar dibalik ini semua ada permainan politik tingkat tinggi — bahwa jika patut dapat diduga ada lawan politik yang pro pada rezim dan partai politik yang menjadi “rumah” Presiden George W. Bush ingin mempermalukan Presiden Obama, maka satu hal yang penting disadari bahwa Obama bukan lagi Obama yang dulu.

Obama yang sekarang, adalah pemimpin AS yang sah dan konstitusional.

Obama yang sekarang, adalah ikon dan lambang kedigdayaan AS.

Sehingga, salah besar jika permasalahan negara dicampur-aduk dengan dendam politik atau sikap keras kepala yang terkontaminasi dengan sikap sok tahu, dari sisa-sisa kesombongan yang masih melekat pada Bush, Cheney, pendukung mereka dan Anggota Kongres AS yang tidak menyetujui anggaran penutupan penjara Guantanamo.

Kalau sudah kalah, ya terima saja kekalahan.

Dan harus satu antara kata dan perbuatan.

Jika memang memang sudah kalah, sportif memberikan ucapan selamat dan mengakui kemenangan Obama, maka sepanjang Obama memerintah wajib hukumnya bagi siapapun juga yang menjadi lawan politik Obama untuk memberi dukungan terhadap apapun kebijakan yang positif bagi AS.

Bush dan Cheney, harus malu kepada semua prajurit AS karena akibat kebijakan pemerintahan yang lalu di AS maka penterjemahan pada pelaksanaan taktis dan teknis di lapangan seputar penanganan terorisme menjadi simpang siur.

Sehingga, yang harusnya diakui disini adalah kesalahan soal penanganan terorisme (apapun bentuk kesalahannya), maka itu bukan kesalahan CIA, militer AS atau siapapun yang terkait dalam semua kebijakan keamanan sepanjang Bush menderita sakit paranoid kelas akut dalam menangani terorisme.

Tidakkah disadari, bahwa jiwa raga dikorbankan oleh prajurit-prajurit AS di berbagai medan pertempuran, hanya untuk memuaskan dan menjadi tempat pelampiasan sakit paranoid kelas akut yang diderita Bush ?

Dan soal Guantanamo, inilah yang justru termasuk kesalahan fatal dari Bush.

Jika penjara ini tidak ditutup, lalu apa formula penyelesaian yang oleh Bush dan Cheney dianggap paling baik agar penegakan hukum dalam penanganan terorisme itu tidak menerapkan hukum rimba yang menghalalkan praktek kekerasan ? Coba ditanyakan kepada Bush dan Cheney, apa formula terbaik yang menurut mereka perlu dilakukan ?

Jika mereka tidak menjawab, bagaimana kalau diterapkan cara bertanya dengan metode “WATER BOARDING” yaitu kepala mereka dibenamkan dalam air sampai megap-megap, agar mereka mau menjawab !

Ya, sebab kedua pemimpin ini sudah sangat keterlaluan.

Ketika mereka menjabat dan memerintah, otomatis seluruh perangkat keamanan harus mampu dan dituntut menterjemahkan secara cepat “perintah” dari panglima tertinggi mereka yang sakit paranoid kelas akut tadi.

Ternyata pemerintahan berganti di AS dan partai politik yang menjadi “kendaraan” politisi-politisi yang serumpun dengan Bush, kalah telak pada Pemilihan Presiden AS. Sudah sepantasnya, apapun juga langkah dan kebijakan yang diambil oleh Presiden Obama demi kepentingan rakyat AS memang harus terus didukung.

Kongres AS ibarat sedang melawak diatas panggung perpolitikan.

Anggaran untuk Irak dan Afghanistan disetujui, tetapi anggaran untuk penutupan penjara Guantanamo tidak disetujui. Entah dimana kecerdasan berpolitik dan moralitas para Senator ini, jika dalam memandang permasalahan sangat pelik — dimana situasi dan kondisi riil di penjara Guantanamo — sudah tak memungkinkan untuk dipertahankan.

Kongres AS ibarat sedang kurang kerjaan dan kurang lahan untuk mencari sensasi.

Akhirnya, yang mau dijadikan sasaran tembak justru Presiden Obama.

Sangat tidak pantas jika seorang presiden yang nyata-nyata sedang berusaha memulihkan dan menyelesaikan persoalan berat yang diwariskan pemerintahan yang lalu, justru dijegal dengan cara seperti ini.

Presiden Barack Obama sendiri sudah menyampaikan dalam pernyataannya baru-baru ini bahwa ia tetap akan menutup penjara militer Amerika di Teluk Guantanamo, Kuba, meskipun ada berbagai kritik di Amerika.

Dalam pidato yang disiarkan televisi secara nasional, Obama mengatakan ia akan menutup kamp tahanan Guantanamo yang diwariskan kepada dirinya mulai menjabat empat bulan lalu.

Obama mengatakan sebagian dari 240 tahanan yang menunggu proses pengadilan akan dikirim ke penjara-penjara Amerika dengan pengamanan sangat ketat dan nantinya akan diadili dalam pengadilan sipil, sementara lainnya akan menghadapi pengadilan militer.

Menurut Obama, pemerintahannya telah menyetujui pengiriman 50 tahanan ke negara-negara lain.

Lalu, menanggapi semua ini muncul komentar sinis dari mantan presiden Dick Cheney mengatakan dalam pidato hari Kamis di Washington bahwa keputusan Obama untuk menutup pusat tahanan itu dibuat dengan – dalam kata-katanya – “sedikit pertimbangan dan tanpa rencana”.

Kalau kami yang jadi Presiden Obama, maka harusnya dilayangkan pertanyaan sederhana kepada Dick Cheney, “What the hell are you talking about ? Shut up !”.

Komentar sinis itu ibarat tong kosong yang nyaring bunyinya. Sebab, rezim yang menyebabkan seluruh dampak buruk yang kini dihadapi AS, justru masih berani “berbunyi”.

Tetapi yang kini harus dilakukan Presiden Obama adalah tak gentar dan tak surut dalam melaksanakan kebijakan yang telah diambilnya dengan pertimbangan, kecermatan dan memegang teguh prinsip kehati-hatian demi tegaknya hukum, HAM dan kemanusiaan.

Sebagai seorang politisi, Obama tentu sudah menyiapkan dirinya untuk melewati “kerikil-kerikil tajam” yang memang biasa terjadi didalam kehidupan siapapun juga di dunia ini.

Obama, harus tetap menjadi pribadi bermental baja dan meyakini bahwa misi apapun yang diembannya untuk kebaikan bangsa, negara dan rakyat AS, sepanjang membawa misi kebaikan maka akan selalu ada jalan untuk mewujudkannya.

(MS)